Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Tag

Kereta

Kesiangan!!!

“Ca, kok belum berangkat? kesiangan ya?”

Samar-sama suara kakak saya membangunkan saya yang lelap. Sempat beberapa detik berpikir lambat sampai akhirnya terbangun dengan panik!

“Apa? Sekarang jam berapa, Teh?” tanya saya sembari terduduk.
“Udah jam 1/2 8”
“Hah!!!” Teriak saya yang kaget dan panik karena seharusnya naik travel ke Bandung jam 5 pagi, karena harus masuk kantor jam 8. Panik dan kaget tidak lantas membuat saya bergegas mandi dan berangkat karena saya tak tahu harus ke Bandung naik apa. Ada pemberangkatan lagi jam berapa, dari mana dan sebagainya. Saya benar2 blank.

“Ya udah sana mandi dulu” ucap kakak saya.
Tapi saya malah bengong, setengah merutuki diri sendiri, melihat kepada handphone yang kelihatannya lupa saya pasang alarm-nya. Atau terpasang namun saya matikan tanpa sadar saat tertidur, entahlah.

Saya mandi lalu putuskan berangkat ke Aya Travel Depok-Bandung, go-show, kalau dapet syukur, kalau ngga saya bakal cari travel ke Bandung yg berangkat dari Lenteng Agung, Cipaganti Travel. Di dalam angkot saya gunakan hape untuk browsing nomor telepon Cipaganti di Lenteng. Saya dapat nomornya, namun tak bisa dihubungi. Angkot berjalan perlahan karena kemacetan dan saya berpikir untuk naik Xtrans dari Blora-Sudirman saja karena pemberangkatan ke Bandung disana setiap setengah jam. Sekarang jam 1/2 8, jam 8.20 nanti saya bisa naik kereta Depok Express ke arah Stasiun Sudirman, jadi tinggal jalan ke Blora. Asal bisa segera nyampe Stasiun Depok Lama sih, amaaan….

Tiba-tiba telepon saya berbunyi, saya lihat ke layarnya, telepon dari kakak saya.
“Ca! charger laptoplu ketinggalan”.
Argh! kenapa pas buru-buru gini malah ada yang ketinggalan…
“Ya udah deh, gue balik lagi” Dyem, harapan saya untuk mengejar kereta Depok Expres punah sudah.
Saya akhirnya turun lagi, dan naik angkot ke arah sebaliknya. Mengambil charger laptop, dan kembali pamit pergi kepada kakak saya dan suaminya.

Travel Aya Depok-Bandung belum tentu ada pemberangkatan jam 9.
Travel Cipaganti di Lenteng Agung gak bisa dihubungi.
Saya telepon Xtrans Blora Jalan Sudirman, dan dapat pemberangkatan yang jam 9, sementara sekarang sudah jam 8 dan saya masih di angkot di Depok. Kalau saya sempat mengejar kereta Depok Express ke Stasiun Sudirman jam 8.20. Jam 9 kurang 15 mungkin saya sudah bisa sampai Sudirman, masih ada harapan ternyata. Tapi ini jalanan menuju stasiun depok macet banget. Panik, saya berulang kali melihat penunjuk waktu di hape, berharap angkot bisa segera berjalan lancar keluar dari kemacetan.

Sampai di pertigaan Jalan Margonda saya turun dan berlari menuju ojek, tanpa saya beritahu kemana tujuan saya tukang ojek langsung tancap gas ke arah Stasiun Depok Lama dengan kencang. Nampaknya ia sudah paham kalau gerak buru-buru penumpang yang  keluar angkot, berlari menuju ojek berarti : “Stasiun, cepat! Sebelum saya ketinggalan kereta“.  Tepat pukul 8.15 saya sampai di depan loket stasiun berkat tukang ojek. Kereta Depok Express itu sudah menanti di peron 2, 5 menit lagi berangkat, saya masuk dan duduk dengan tenang dan lega. Xtrans Blora pemberangkatan jam 9, sepertinya masih akan terkejar. Jika tidak toh ada pemberangkatan 1/2 jam berikutnya di travel ini. Yaah, walaupun saya tentu akan tetap sangat telat sampai kantor di Bandung.

Sekarang, sudah pukul 10.00, dan saya masih di dalam mobil Xtrans menuju Bandung tepatnya di Km.56. Duduk tenang sendiri di kursi paling belakang, online dengan laptop saya, dan langsung menulis kejadian kesiangan ini, pagi ini juga di perjalanan ke Bandung. Ah… betapa saya cinta laptop dan hape saya. Terlebih lagi, betapa saya cinta naik kereta di Jakarta.

Salam

-japs-

Advertisements

I Hear Babies Cry….

Baru saja semalam saya bercerita hal remeh temeh kecil yang tak terduga dan terrencana selalu membuat hidup saya lebih hidup. Jika kemarin malam hal remeh kecil itu terjadi di omprengan, maka pagi tadi hal remeh kecil itu terjadi di dalam sebuah gerbong kereta ekonomi ac jurusan Jakarta Kota.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, begitu banyak bayi dan anak balita di dalam gerbong itu. Hampir semuanya di dalam gendongan ayah atau ibunya. Dan satu gerbong menjadi semerbak harum bayi-bayi habis mandi, hahaha… Saya lihat bayi lelaki kecil di gendongan ibunya yang tenang, saya lihat kakaknya yang masih balita di gendongan ayahnya lebih aktif menunjuk2 dengan senyuman dan tawa yang hanya dia dan Tuhan yang tahu maksudnya, senyum dan tawa dalam dunianya sendiri. Tak jauh dari keluarga muda kecil itu ada bayi lain yang juga tertidur tenang, berbalik kanan, saya melihat lagi-lagi bayi di gendongan, melirik ke arah yang lebih jauh, juga sama, bayi lagi… bayi lagi… ada apa dengan gerbong kereta ini di siang hari ini? Kenapa begitu penuh dengan bayi… dan bayi??? Saya pikir ini adalah “Family on the train time”. Minggu siang yang cerah, waktu yang tepat untuk berjalan-jalan membawa si kecil naik kereta ekonomi tapi ber-ac ini. Tak sedikit bayi yang bukannya senang malah menangis dan gelisah di dalam. Ada yang berhasil ditenangkan sang ibu, ada juga yang menangis menjerit tiada henti.

Stasiun Cawang, tempat saya akan turun sebentar lagi kereta ini sampai. Saya mengambil posisi di depan  pintu kereta, di kanan saya si bayi yang terus menangis, sementara di sisi kiri saya balita lain di gendongan ibunya, tatapnya melihat ke arah saya, saya “godain” dia tanpa sepengetahuan si ibu, dia bingung dan untungnya nggak nangis. “Tuh liat tuh, ade yang itu nangis tuh, kesian ya… cup cup cup” Ucap ibunya pada anak sembari menunjuk ibu lain yang kewalahan dengan anaknya yang terus menangis, berteriak dan terus menerus menangis”

Dan sesaaat kereta perlahan berhenti lagu Louis Armstrong yang di bawakan Buble di iPod saya secara tak terduga sampai di bait:

I hear babies cry… I watch them grow… They’ll learn much more, than I’ll ever know…

senyum  saya tersungging, “hal remeh kecil ini… ” batin saya.

And I think to myself… What a wonderful world…

Pintu kereta terbuka, saya melangkah keluar, berhenti di atas peron, terpaku dalam bauran rasa yang aneh, serta kecamuk pikiran. Mulut saya masih tersenyum, namun mata saya terasa sedikit berair.

Yes I think to myself…  What a wonderful… w o r l d

Saya kembali berjalan keluar stasiun dengan setumpuk rasa bahagia tiba-tiba. Lagi-lagi, karena satu hal remeh kecil yang tak terduga.

Perjalanan Pulang Petang Ini

Langkah kaki tergegas keluar dari bis dan pintu itu kembali bergeser tertutup. Bus melaju lagi, juga langkah kaki ini, segera kembali bergegas menuju luar halte yang bernama Tosari.

Lari… lari dan terus berlari… terlihat gedung-gedung itu mencakar langit begitu tinggi dari rendahnya trotoar merah mulus ini. Sementara itu alas kaki terus menerus hendak terlepas. Naik turun nafas terengah, hampir habis ditengah gegas diri yang terus melaju…

Bisa kulihat stasiun itu, Stasiun Sudirman, masih 2 kali lemparan batu untuk sampai sana. Namun tak dapat kuhalangi pandang mata ini terus menarik ke arah puncak gedung-gedung nan tinggi, yang terasa begitu harmonis dengan gegas kaki ini, yang terasa begitu klop dengan waktu yang melesat seperti tak pernah mampu dan dapat dikejar.

Kali ini aku benar-benar harus mengambil nafas, kulihat penunjuk waktu di telepon genggam. ”Ah… sudah lewat tiga menit” rasanya aku sudah ketinggalan kereta senja…
Tapi setitik asa masih tersisa ”Ini kan Indonesia… Kereta telat bukan hal aneh disini… jadi, masih ada harapan untuk si komuter ini”

Ku kembali berlari, dan alas kaki terus saja hendak terlepas yang kadang sempat membuatku geram dan ingin melepasnya saja. Ah, tapi apa jadinya jika berlari hanya dengan kaus kaki saja? Tanpa kaus kaki mungkin lebih baik, namun waktu yang dibutuhkan tuk melepas rasanya membuang waktu lebih banyak lagi. Dan akhirnya kupilih terus berlari sembari menahan sepatu agar tak terlepas.

Aku sampai stasiun itu, tak pernah kulihat antrian loket kereta Jabotabek sepanjang ini, seperti antrian bioskop saja rasanya. Huff… sudah telat, antrian pun tak dapat ditolak, kereta itu bisa jadi sudah lewat, tapi hati terus berharap bersama pandang mata yang selalu mengarah ke peron, bertanya ”kereta ekonomi ac itukah disana?”

”Ekonomi AC Depok sudah lewat, Pak?”
“Manggarai” Jawab penjaga tiket singkat dan datar, ekspresi macam ini sudah jamak kudapatkan di kota ini, tak sedikit orang yang tak suka sedikit berbasa basi ataupun ramah sedikit saja… yah, mungkin kerasnya ibukota yang membuat beberapa orang malas mengayun turunkan nada bicara atau membuang senyum, sedikit saja…

“Manggarai, kereta yang seharusnya berangkat pukul 17.30 itu masih di Manggarai?”
Kabar buruk bagi mereka yang datang tepat waktu, namun baik bagi yang gopoh gapah telat 5 menit seperti saya. Saya tunggu kereta di peron satu yang sudah penuh sesak orang, bagai cendol tanpa air… padat!!! Kami semua bersentuhan, begitu rapat. Saya menunggu kereta telat itu sampai saya lihat arah kereta ke arah Depok bukan di peron ini… Peron seberang! Ah! Saya harus kesana… rapatnya manusia tak terelakan harus diterobos, harus naik tangga penyebrangan, tas terjepit dan isinya keluar ”alamakjang!”, terpaksa saya harus menunduk-nunduk mencari-cari kunci yang jatuh diantara kaki-kaki, dan kembali berlari menaiki tangga penyebrangan menuju peron 2. Gopoh gapah…

Tubuh berhenti, peluh langsung mengalir deras… hawa panas seketika itu juga membungkus diri…Saya lihat wajah-wajah pekerja ibukota… ramai mewarnai stasiun kereta. Saat kereta menuju Tangerang sampai di peron seberang, saya lihat wajah-wajah itu berdesak masuk begitu jelas berusaha sekeras mungkin mendapat kursi di kereta kosong yang datang. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima, dan kereta itu masih belum datang juga. ”Tertahan di stasiun Manggarai”, begitu kata petugas informasi lewat pengeras suara. Informasi semacam ini sangat membantu, karena tidak membiarkan penumpang menunggu lama tanpa kepastian (digantung begitu saja).

Akhirnya kereta tiba, saya masuk dengan tenang, tak perlu berebut tempat duduk karena memang sudah tak bersisa dan berdiri pun sudah cukup nyaman bagi saya asal kereta sampai di Stasiun Depok Baru saja, karena makanan sudah disiapkan di rumah oleh kakak tercinta, menyempurnakan perjalanan pulang petang ini.

Satu perjalanan pulang di senja hari yang saya suka,
begitu sederhana namun sarat makna.

Saya suka Jakarta…
Saya suka naik kereta…
Saya suka naik kereta di Jakarta…

Hidup Komuter!!!

Salam

-japs-

Yogyakarta, Sebuah Catatan Perjalanan – Awal

Tiga hari yang teramat luar biasa di pertengahan tahun ini, menjadi penutup yang sempurna bagi separuh tahun 2008. Perjalanan yang sederhana tanpa perencanaan yang matang, namun berakhir dengan penuh kesan, padat dengan diskusi dalam hati serta riuh dalam setiap kontemplasi pribadi. Perjalanan mencari sepi, tuk sejenak melarikan diri dari kehidupan sehari-hari. Perjalanan ke Yogyakarta.

Awalnya saya berencana pergi sendiri, tepat di malam setelah saya berprofesi menjadi seorang kurir (Catatan Harian Seorang Kurir). Namun selekas-lekasnya saya berusaha menyelesaikan tugas menjemput data tersebut, kereta akhirnya tetap tak terkejar. Kereta malam itu meninggalkan saya. Lanjutkan baca ‘Yogyakarta’

Up ↑