Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Tag

perjalanan

Batam, Dalam Catatan – Racauan

Perjalanan dinas yang memberikan banyak pelajaran sekaligus cerita, bahwa dunia tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan. Dan makanan selalu menjadi teman terbaik dalam situasi apapun… hahaha…

Kali ini saya akan bercerita perjalanan saya di Batam secara acak (baca : meracau), mengenai apa saja yang saya lihat, rasa, dengar, dan terutama adalah apa yang saya makan. Hehehe. Jadi, mari kita mulai (lagi) jalan-jalan di Batam. 

Seperti tertulis di postingan pertama seri Batam ini. Hari pertama saya habiskan berjalan-jalan ke Jembatan Barelang, menyebrangi pulau-pulau hingga sampai ke Pulau Galang, pulau tempat kamp pengungsi Vietnam yang penuh dengan cerita. Perjalanan dari Pulau Batam menuju Pulau Galang menghabiskan waktu kurang lebih 1 1/2 jam, perjalanan yang cukup panjang dengan jalan yang begitu mulus. Sehingga sangat nyaman untuk bisa tidur di bis, hehehe.

[Lanjutkan baca]

Advertisements

Batam, Dalam Catatan – Pulau Galang, Kamp Pengungsi Vietnam

Bus ini terus melaju, melintas di aspal mulus yang membentangi keenam pulau tanpa putus. Saya lihat jalan itu, keloknya lurusnya, juga tebing yang kadang membentuk vista dengan kedua sisinya, membentuk sebuah jalur panjang yang mengantarkan kami semua ke Pulau Galang, pulau tempat kamp pengungsian para manusia kapal dari Vietnam.

Memasuki kamp para pengungsi Vietnam ini pertama kalinya, saat itu saya benar-benar buta akan cerita dan sejarah dibaliknya. Dan lembar cerita itu mulai terbuka perlahan saat saya melihat peta kawasan kamp pengungsian ini tepat sebelum bis memasuki gerbang kamp pengungsian. 

[Lanjutkan baca]

Batam, Dalam Catatan – Satu

Pesawat sampai di Bandara Hang Nadim Batam, saya beserta rombongan langsung diterima oleh pihak travel yang membawa kami ke bus, bus yang mengantar kami ke hotel untuk sekedar check-in  lalu segera meluncurkan kembali rombongan ke tempat makan siang, saya ingat namanya Restoran Kediri. Sesaat masuk kedalamnya saya percaya ini pasti restoran enak, kenapa? karena sedang ada Bondan Winarno syuting Wisata Kuliner-nya disana. Dan benar saja, sate ayam, udang goreng tepung, sapo tahu, tom yam goong, sapi lada hitam dan lainnya, hampir ludes saya bantai. Rasanya nikmat, hanya saja penganan itu sudah terlanjur dingin oleh hembusan ac di ruangan. 

Perjalanan dinas ini perjalanan survey saya untuk sebuah proyek di kantor, namun saya takkan banyak membahas mengenai proyek tersebut. Bisa panjang ceritanya, lebih baik saya laporan pandangan mata saya mengenai kota ini saja. Sekilas, kesan saya saat mulai memasukinya adalah: Batam, Kota Seribu Ruko. Luar biasa, rukonya, banyaaak sekali. Dimana-mana ruko, disini ruko, disana ruko. Rasanya ini memang benar-benar surga buat yang hobby belanja *mulai berlebihan*. Tapi memang begitulah adanya. Sepanjang mata memandang dari jendela bis, ruko saja yang terlihat. Namun kesan tersebut perlahan pudar saat kami mulai dibawa menuju bagian lain Kota Batam, menuju kawasan Jembatan Barelang.

[Lanjutkan baca]

Yogyakarta Sebuah Catatan Perjalanan – Sendratari Ramayana

Tapak kaki ini terus melangkah melewati jembatan Sungai Opak yang gelap. Tak dapat saya lihat permukaan sungai itu di kanan saya, terlalu gelap. Sementara di kiri saya deru kendaraan melaju cepat menambah kengerian berjalan di tepi jembatan gelap yang pembatasnya hanya sebatas lutut itu. Saya takut terjatuh, takut menghilang di kegelapan sana. Maka saya percepat langkah ini menuju pertunjukkan kolosal itu. Sendratari Ramayana.

[Lanjutkan baca]

Up ↑