Search

Apaka Tajapra

Cerita dari Jakarta dan kota-kota disekitarnya

Tag

Keraton

Cirebon dan Keraton

keraton-kasepuhan

Sudah pernah ke Cirebon? Ke Keraton-keratonnya yang menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon mulai dari abad ke-13 hingga sekarang? Kalau sudah pernah, mari berbagi cerita dan pengalaman. Kalau belum pernah, mari kita kesana melalui “jasa transportasi” kata-kata di apakatajapra ini, hehehe…. siap? Berangkat!!!

Kali ini saya hanya ingin mencoba menulis tentang potensi-potensi yang dimiliki oleh keraton-keraton di Cirebon. Sebenarnya ini tulisan satu setengah tahun lalu waktu saya diminta membuat resume setelah seharian survey ke keraton-keraton di Cirebon. Jadi maaf kalo tulisannya bakal jadi kaya tulisan di laporan (yang ancur) yang diedit-edit dikit (dan malah jadi tambah kacau), hehehe…. di postingan berikutnya nanti saya coba nulis yang lebih santai ala catatan perjalanan kaya yang di tulis mba tutinonka deh. hehehe…

Keraton-keraton yang berada di Cirebon telah menjadi saksi sejarah panjang Kota Cirebon sejak abad 13 hingga sekarang, mulai dari terbentuknya Kesultanan Cirebon hingga terbagi menjadi empat kepemimpinan seperti sekarang. Sejarah tersebut dapat terceritakan kembali secara detail saat kita mengunjungi setiap keraton yang terdapat di Cirebon. Setiap situs yang tertinggal di keraton-keraton ini memiliki falsafah yang luhur yang (semestinya) mampu menjadi potensi filosofis sebuah kota untuk maju dan berkembang. Namun sangat disayangkan, pada saat ini daerah kesultanan justru menjadi daerah yang tertinggal dalam hal pengembangan kota. Keraton menjadi sebuah tengaran (landmark) hanya dalam pengertian tengaran dalam sejarah panjangnya, namun dalam pengertian fisik bangunan tengaran di dalam kota, Keraton tidak cukup kuat lagi keberadaannya. Tertutup oleh bangunan-bangunan lain yang menyembunyikan keberadaan keraton yang dulunya pusat sebuah kota bernama Cirebon.  (Keraton Kasepuhan tertutup oleh bangunan-bangunan perumahan yang mengelilinginya, Keraton Kanoman tertutup oleh besarnya Pasar Kanoman yang juga sekaligus menjadi gerbang masuk utama menuju Keraton Kanoman). 

Perkembangan perkotaan yang dirasa semakin tidak terkendali semestinya dapat dibatasi dengan perencanaan yang turut mendasarkan perkembangan beberapa bagian wilayah kota pada studi sejarah dari masa Kesultanan Cirebon hingga menjadi Kota Cirebon seperti sekarang. Kekuatan dan potensi sejarah mampu menjadi alur  yang kuat untuk membawa pengembangan fisik Kota Cirebon menjadi objek wisata budaya misalkan seperti Yogyakarta yang mapan dengan Keraton, budaya dan sejarah lokalnya. 

 

Keraton

Jika dilihat dari pengertian keraton sebagai wadah institusional kesultanan, Cirebon sebenarnya memiliki empat buah Keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan. Namun, jika keraton dilihat dalam pengertian arsitektural, yang  cocok disebut sebagai (bangunan) keraton hanyalah Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, karena hanya kedua Keraton tersebut yang memiliki bagian-bagian bangunan yang seharusnya ada dalam sebuah komplek keraton, seperti alun-alun, masjid agung, siti inggil, dll (CMIIW). Sementara kedua keraton yang lain (dalam pengertian arsitektural) lebih tepat dibilang sebagai bangunan ndalem. Keempat keraton tersebut memiliki potensi dan kekurangannya masing, hal-hal tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan lingkungan sekitar keraton selanjutnya, akan dibawa kemanakah pengembangan fisik lingkungan sekitar keraton-keraton ini selanjutnya.

[Lanjutkan baca]

Advertisements

Yogyakarta, Sebuah Catatan Perjalanan – Dua

Yogyakarta

Dan Stasiun Lempuyangan menjadi titik awal perjalanan saya di kota tempat Kerajaan Mataram berpusat beberapa abad yang lalu, di kota pelajar dengan 137 universitas itu (penting banget, heu), di kota gudeg dan banyak makanan lezat lainnya, di kota yang pernah jadi ibukota republik tercinta. Ya! Yogyakarta, saya sudah sampai didalamnya. Dan suara medok tukang-tukang becak yang menawarkan jasanya semakin memperjelas imaji suasana spasial saya dalam merasakan kota ini. Mari kita mulai perjalanan, Kawan! Lanjutkan baca ‘Yogyakarta’

Up ↑