Ucapan dokter bahwa saya harus bedrest tiga hari dirumah tanpa boleh ngapa-ngapain bener-bener menskak-mat saya akhir pekan ini. “Jadi gak boleh kerja, Dok?”. Pertanyaan bodoh itu keluar karena saya punya deadline pekerjaan di hari senin. “Jangan, panas kamu tinggi begitu”, “Tapi saya ada deadline dok”, dan saya pun tak mengerti mengapa pembelaan yang jauh lebih bodoh itu keluar dari mulut saya. Sang dokter hanya membalas dengan senyum simpul, sederhana tapi penuh makna. 

Selama ini saya tidak pernah divonis mengidap penyakit yang memungkinkan saya masuk rumah sakit oleh dokter. Jadi vonis gejala tipes cukup membuat saya khawatir bagaimana nanti jika hingga 3 hari ke depan demam ini belum turun juga. Bagaimana pekerjaan kantor yang masih menumpuk itu saya pertanggung jawabkan? Dan pada akhirnya dengan amat menyesal saya harus egois bin oportunis memenangkan kebutuhan tubuh beristirahat TOTAL, dan menyerahkan tanggung jawab pada rekan sebelah meja yang mengirimkan email “japiiiii saya pusiiiiing” di keesokan hari, saya tahu itu pasti karena limpahan pekerjaan dari saya. Dan saya tak tahu harus menjawab apa, mungkin dia hanya ingin menumpahkannya saja… maafkan kawan… tak tahu lagi bagaimana caranya mengembalikan akhir pekanmu yang saya renggut😦

Dan disini saya merenungi semua ini, menatap ke belakang bahwa saya selalu abai akan kesehatan diri. Merasa kuat melahap segala makanan dalam kondisi apapun, “perut gak boleh dimanja, hajaaar aja!”. Dan keterbiasaan makan makanan non higienis terus menjadi rutinitas yang luput dari perhatian akan kesehatan. Ya, saya anggap ini teguran. Kalau segala sesuatu juga ada batasnya. Kalau perut gak boleh dimanja, maka lidah pun harus tau diri gak makan semua yang menggugah selera. Kalau sedikit mengalahkan keinginan itu perlu, karena tanpa sehat saya hanya jadi pesakitan di atas tempat tidur yang kerjanya cuma baca buku, makan bubur, minum obat, dan tidur. 

Gejala tipes, dua kata yang membuat lidah saya putih, kepala saya sakit, badan saya demam, dan seorang kawan kesusahan di kantor sana. Semoga bisa jadi pelajaran buat saya dan siapapun juga.

salam 

 

-japs-